Jejak Masa

jejak3

Tak jarang, dalam hidup ini kita memperoleh suatu pembelajaran berharga yang pantas untuk diabadikan meski hanya dalam untaian kata. Untaian kata inilah yang nantinya bisa mengingatkan kita, menjadi jejak bahwa telah kita lewati suatu masa yang menjadi potongan episode penting dalam perjalanan hidup kita. Caranya pun beragam dan setiap orang punya seninya masing-masing untuk mengabadikannya. Kata sayyidina Ali bin Abi Thalib yang semoga Alloh ridho padanya, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Aku sendiri memilih puisi, karena bentuknya yang relatif pendek jika dibandingkan dengan prosa lainnya. Ketika masuk taman kanak-kanak, adalah pertama kalinya aku berkenalan dengan puisi. Bahkan, puisi tentang seekor gajah itu masih melekat dalam ingatan.

Puisi merupakan untaian kalimat bersanjak atau berirama. Terasakah kau ketika membaca salah satu surat dalam Al-Qur’an ada sanjak yang begitu indah? Misal nya saja dalam surat Al-Fatihah, yang setiap akhir kalimatnya bersanjak sama. Sanjak inilah yang membuat puisi menjadi indah, ya meski kadang ada pula yang tak bersanjak. Namun puisi tak kan mungkin pernah seindah ayat Al-Qur’an.

Puisi, meski pendek, ia sarat makna. Tak semua orang bisa memaknainya. Ia unik dan menyimpan sejumlah rahasia. Membuat geli pembaca ketika tak dapat memahaminya. Dengan jumlah kata yang sedikit, namun mampu mewakili setiap rasa. Kadang ragu tuk berpendapat membuatku terdiam, puisilah yang bisa mengertiku. Ia mampu menyelami hati dan pikiran. Karenanya aku begitu menyukai puisi. Buatku, puisi adalah cara terbaik untuk menuangkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran. Karena keduanya merupakan sesuatu yang amat berharga bagi setiap manusia. Tak sembarang orang punya izin akses untuk memasukinya, hanya orang-orang pilihan. Namun, ada hal-hal tertentu di dalam hati dan pikiran kita yang memang perlu untuk dipublikasikan agar orang lain dapat mengetahuinya. Mengerti dan memahami bahwa kita tengah berbagi manfaat dari perjalanan hidup kita. Untuk itu, ku rasa penting untuk mulai belajar menjabarkan kepingan poem/puisi yang kubuat ke dalam prosa yang “agak panjang sedikit v^^”. Meski dalamnya hati dan luasnya pikiran tak kan pernah bisa terjangkau dengannya.

Semula kukira berabai

menyatukan ia hingga tak lagi tercerai

suatu jejak masa yang tak terabai

kini justru buat ku mulai terbuai

ditimang ayunan sahara yang jua konon bersungai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s