Partisi

window

Akhir-akhir ini banyak bermunculan akun facebook milik teman SD ku. Rindu rasanya bercengkrama dengan mereka. Bayangkan, aku melaluinya selama enam tahun. Berbeda dengan TK, SMP, SMA, dan kuliah yang hanya dua hingga tiga tahun. Sedangkan untuk Madrasah Diniyah, hanya ditempuh selama lima tahun karena peraturan baru kala itu.

Banyak sekali hal yang masih kuingat tentang masa itu. Dua sahabat yang memberi tempat duduk untukku ketika pertama kali masuk kelas, padahal kursinya hanya dua. Seseorang yang dengan tulus melepaskan tali sepatuku yang terikat kencang dan aku hampir menangis karenanya. Juga tentang salah satu obrolan ringan di waktu istirahat. Waktu itu kita sedang mengetahui panggilan untuk orangtua kita masing-masing. Waktu itu aku merasa malu karena hanya aku yang memanggil dengan sebutan “mama” dan “papa”. Awalnya biasa saja, tapi salah seorang temanku berucap, “Cie, kamu dimanja ya?”. Aku hanya tersenyum kecil, sambil terus bertanya dalam hati, “kenapa begitu?”. Padahal menurutku, aku tidak lebih dimanja dibanding mereka. Orangtua mereka membolehkan mereka bermain bersama di malam hari ketika bulan purnama tiba, menuruti keinginan mereka untuk menginap di rumah salah satu teman yang jarak nya kurang dari 100 meter dari rumah untukku belajar bersama, mereka juga tidak kena marah ketika bermain melebihi jam 17.00. Semua keinginan mereka rasanya dipenuhi. Rasanya tak terima dikatakan manja.

Papaku yang paling ganteng – karena memang di rumah cewek semua, peace pa v^^ – menerapkan semacam peraturan semi militer. Jangan bayangkan keempat putri beliau untuk push-up setiap pagi. Terlalu berlebihan memang. Tapi maksudku di sini ingin menggambarkan saja bahwa di rumah memang ada peraturan-peraturan khusus yang harus dipatuhi. Tentu setiap keluarga memilikinya. Dulu, aku sempat sangat merasa terkekang karenanya. Banyak aturan aneh yang tak bisa kuterima. Merasa gerakku dibatasi, waktu bermainku dikurangi, juga waktu bersama teman pun rasanya hanya sedikit kulalui. Apalagi papaku sangat ketat dalam menerapkan aturan ini. Hampir semua yang diterapkan kepada kedua kakakku, juga diterapkan pula pada aku dan adikku. Padahal usia kita terpaut sepuluh dan tujuh tahun, masa ga ada amandemen dalam kurun waktu itu.

Masih teringat ketika yayu – panggilan untuk kakak perempuanku – menangis dan meminta maaf di depan kedua orangtuaku setelah mengalami kecelakaan motor dengan beliau sebagai pengendaranya. Memang orangtua kami tidak memberi izin untuk belajar mengendarai motor selama belum lulus kuliah, dan ketika itu kakakku masih menjalani masa kuliahnya. Tentu aneh bukan? apa alasannya melarang kami? Terlebih lagi mama pernah bercerita bahwa ketika muda, beliau bersama kakak serta adik laki-laki nya adalah para rider moge alias motor gede. Tapi, rasanya aku tak perlu mengajukan pertanyaan, karena kejadian itu sudah cukup menjawab. Dari situ aku pun belajar bagaimana mama menghargai keputusan papa, yang jangankan moge, motor biasa pun belum boleh aku kendarai.

Kakak keduaku juga punya cerita unik berkaitan dengan aturan papa. Ketika dua orang teman sekolahnya yang laki-laki bertandang ke rumah di jam yang kurang tepat, kurang lebih setelah maghrib. Papaku sudah memberi kode bahwa mereka harus segera pulang, tapi mereka belum juga beranjak dari tempat duduknya. Akhirnya, papaku melancarkan aksinya. Beliau mengambil margarine kemudian mengoleskannya pada dua pasang sendal milik teman kakakku. Tak usah dibayangkan bagaimana susahnya mereka menggunakan sendal itu ketika pulang, terlebih lagi setelah mereka mencoba membersihkannya dengan air, semakin licin v^^.

Aku sendiri sering tiba-tiba tersenyum ketika mengingat cara papa memperlakukan kami. Tapi dibalik semua aturan-aturannya, orangtuaku termasuk yang demokratis, asal bisa menunjukkan bahwa yang kita lakukan lebih banyak manfaatnya, silakan saja. Malah, sudah terlalu banyak pemakluman yang oratngtuaku berikan untukku. Kelonggaran jam pulang ketika ada kegiatan, dan lainnya. Tak tega rasanya kalau dispensasi itu kemudian dihamburkan untuk kegiatan tak perlu..

Semakin besarnya massa kepala ini, semakin kusadari makna pembatasan itu. Semua aturan yang diterapkan itu adalah bentuk komunikasi cinta. Orangtua pasti memiliki alasan kenapa menerapkannya, aku saja yang belum mampu memahami. Teringat perkataan teman yang menyukai photography. Aku belajar beberapa hal darinya. Supaya kita berhasil memperoleh sudut pandang terbaik dari setiap peristiwa yang hendak diabadikan, kita harus mematuhi beberapa aturan dalam pengambilan gambar. Intensitas cahaya, kefokusan, dan hal lainnya. Sebagai muslim pun kita terikat aturan. Allah tentu tau apa yang terbaik bagi kita, makanya aturan itu ada. Memilihkan yang baik-baik nya saja untuk kita. Rabbana maa kholaqta hadza bathila..

Begitulah, aku percaya dan yakin orangtuaku sedang membuatkan jendela kamar untukku di sisi yang paling tepat. Agar aku bisa melihat pemandangan yang indah, hingga akhirnya tidak takut melihat dunia luar. Kini ku tak keberatan kalau teman SD ku kembali bilang, aku dimanja. Ya, dengan cara yang berbeda.

Serpihannya kini menjadi intan

Dibalik kuatnya ada semacam kilauan

Menghiasi dinding hati berfigura

Biarkan,

Hingga jendela itu membingkai indah

Partisi kehidupan yang begitu luasnya Allah ciptakan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s