Tepat Setahun

6 September 2015

Hari ini tepat setahun setelah wisuda, mendapat gelar A.Md. di belakang nama.

Dalam satu tahun ini begitu banyak karunia yang Alloh berikan. Setahun yang begitu lama sudah terlalui. Jauh dari keluarga membuat setahun ini menjadi jauh lebih lama beberapa kali lipat. Dulu, waktu kuliah di bandung masih ada adik yang menemani. Yang mau mengangkat galon, memasang lampu kamar yang terkadang mati, dan membelikan makanan ketika diri ini sakit. Meski dia terlihat cuek, aku tetap saja mencintai adikku satu-satu nya ini. Pokok nya i’m half a heart without you, Miss J.

Setahun lalu, ketika sedang menaiki taxi menuju tempat wisuda, mama, papa, aku, dan adikku melewati jalan yang setiap hari kulewati selama kuliah. Mama bilang, “tak terasa ya Ir, terlewati juga.” Rasa nya ingin menghambur ke pelukan mama lalu menangis. Tapi waktu itu aku tak ingin membuat suasana bahagia nya papa & mama melihat anak nya diwisuda menjadi berkurang, aku tahan. Kini tepat setahun, justru aku sedang kembali menjadi mahasiswa di kampus yang berbeda.

“huwalladzi ja’alalakumul ardlo dzaluulan famsyuu fii manaa kibihaa wa kuluu mirrizqih.”

arti nya: Dia lah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjuru nya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya.(QS 67:15)

Hijrah di salah satu penjuru negeri ini semoga bukan hanya dalam rangka memenuhi kebutuhan di dunia dan mencapai segala cita-cita. Tapi proses penghayatan bagaimana menjadi penjelajah bumi yang Alloh ridhoi. Rindu keluarga, sudah pasti. Rasa khawatir kepada kedua orang tua yang kini ditinggal sepi anak-anak nya kadang mengusik dan rasa nya ingin pulang setiap hari. Mengingatkan papa untuk tidak lupa membawa kacamata ketika pergi, memberikan pijatan yang tak berefek apa-apa di tangan dan kaki mama, mencium kedua tangan orangtua sehabis sholat, dan melakukan hal-hal lain yang memang merepotkan keduanya. Tapi aku rindu. Aku yang pelupa, aku yang tak disiplin menjaga makan, aku yg lemah sering membuat kedua orang tua merasa khawatir. Padahal nyata nya mereka yang sering membuatku khawatir.

Kecelakaan motor beberapa bulan lalu membuat tangan papa masih belum pulih hingga sekarang. Mata papa memang tak seawas dulu. Kini, tak ada lagi yang mengantar kemana mama ingin pergi. Sebutan “koboi” mama untuk papa memang beralasan. Karna memang papa selalu siap sedia mengantar mama ataupun anak-anak nya jika sedang luang. Kalopun ada kegiatan, pasti keperluan keluarga selalu menjadi prioritas. Rindu…

Aku tahu dan terus mencoba yakin, hanya Alloh lah sebaik-baik penjaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s